Thursday, October 18, 2012

Individualis atau Terindividualiskan


Pelajaran yg dapat kuambil hari ini tanggal 15 Oktober 2012 adalah mendahulukan perasaan teman itu lebih indah daripada harus mendahulukan perasaan dan emosiku. Meskipun aku dibuang untuk bergabung disebuah kelompok tugas, aku nggak boleh mendahulukan emosiku untuk menolak teman lain yang mau bergabung dalam kelompokku. Sesakit apapun hatiku saat kalian bilang aku individualis, aku mengerti itu karena kalian nggak pernah merasakan apa yg aku rasakan tadi.. Aku minta maaf untuk peristiwa keributan yg tadi.
Semua karna aku terbawa oleh emosi. Aku bukan orang individualis, tapi aku merasa terindividualiskan.. aku menulis ini bukan karena aku mau memperpanjang masalah, tapi aku ingin menyelesaikan masalah... jadi maaf kepada kalian semua yang merasakan sakit hati. terutama X, Y, dan Z. maaf yang sebesar-besarnya.. kita semua teman, aku bukan individualis, bukan juga anggota dari sebuah genk... aku hanya merasa kaget menghadapi dunia perkuliahan di kelasku yg nggak sama dengan kelasku di SMP dan SMA dulu.. disini ada grup, disitu ada grup, dan ketika aku akrab dengan satu orang, aku dianggap mendirikan grup.. padahal kenyataannya???
Makasih untuk keikhlasannya memaafkan aku...
Tulisan diatas adalah tulisan pertmintaan maafku kepada temen-temenku satu kelas yang aku postingkan di grup facebook gara-gara masalah pembagian kelompok. (Cerita dulu kali ya biar jelas, hehe) Hari itu adalah hari senin, seperti biasa kuliah aku masuk pagi (dari senin-jum'at) jam pertama ada mata kuliah Sistem Operasi. Pada detik-detik sebelum mata kuliah tersebut berakhir, dosen aku ngasih tugas yang harus dikerjakan secara kelompok maksimal beranggotakan 8 orang. Saat itu aku duduk berderet dengan 6 orang, 4 orang dari mereka adalah anggota satu geng dan 2 orang yang lainnya adalah aku dengan teman ku si S yang biasanya duduk disebelahku. Awalnya mereka semua sepakat kalo satu deret itu adalah satu kelompok ditambah lagi 2 orang ( 1 orang dari anggota geng mereka, 1 orang lagi si R, temenku yang biasanya duduk di deketnya si S). Tapi dari penambahan anggota itu ternyata ada yang nggak suka dengan temenku yang satunya yaitu si R. Dari ketidaksukaan itu menimbulkan sikap tidak mengenakkan yang ditunjukkan oleh geng di kelasku tadi. Mereka secara tiba-tiba mengeluarkan aku, S dan R dari kelompok tugas tadi tanpa alasan yang nggak ku mengerti. Setelah peristiwa pengeluaran itu akhirnya emosiku memuncak, tapi ku coba sekuat tenagaku buat bersabar. Akhirnya aku memutuskan buat membentuk kelompok hanya 3 orang tadi ditambah 1 orang lagi menjadi 4 orang. setelah nama anggota kelompokku aku kumpulin tiba-tiba ketua kelasku nambahin 3 orang lagi, salah satunya orangnya nggak ada tapi tetep dicantumin namanya. Pikirku, mentang-mentang ketua kelas, seenaknya aja nambah-nambahin anggota buat kelompokku, iya kalo anggotanya ada semua nggak apa-apa, tapi ini kenapa yang kamu tambahin orang yang nggak ada??? gara-gara itu aku protes ke ketua kelas, dan tanpa ku sadari temen-temenku yang lainnya pada denger. Dan mereka pada maki-maki aku, mereka bilang aku individualis lah, bilang katanya nggak usah bikin kelompok lah.. Sumpah perkataan mereka bikin aku sakit hati setengah mati.. Andai aku berani ngomong didepan semuanya, aku bakal ngejelasin semuanya dan aku bakal balikin kata-kata mereka, Coba kalo seandainya kita tukeran kelompok atau kamu ngrasain jadi aku pas dikeluarin dari kelompokku yang tadi hanya gara-gara aku bukan anggota dari geng mereka, apa kamu masih mau bilang  aku individualis?? Apa nggak salah kamu mengarahkan kata individualis kepadaku?? Kenapa kamu nggak bilang kepada orang-orang yang bikin geng tadi?? yang hanya mau membentuk kelompok tugas dengan orang-orang yang termasuk anggota gengnya?? oh ya  aku lupa, pasti kalian nggak bakal mau soalnya kalian juga udah menjadi bagian dari gengnya mereka.
Sebenernya aku mikir jauh sebelum nulis permintaan maafku diatas kepada mereka, karna kalo dipikir-pikir yang salah bukan cuma aku. Mungkin guue disini juga bisa dikatakan sebagai korban, tepatnya korban yang dibilang individualis tapi pada kenyataannya terindividualiskan. Dibilang individualis karena meresa terindividualiskan, dan akhirnya menyendiri mencari teman lain untuk bertahan melewati hari-hari perkuliahan di kelas hingga hari kelulusan kelak.. Tapi ternyata pertemanan akibat dari nasib yang sama-sama terindividualiskan menjadi sebab kata-kata individualis keluar dari mulut teman-temanku.. Dari situ ku ambil hikmah, kalo aku harus selalu bisa bersabar hidup di tengah orang-orang yang individualis yang keindividualisannya ditutupi dengan cara menuduhkan kepada korban-korban keindividualisannya (ibarat maling teriak maling)..

No comments:

Post a Comment